Karena Ku Cinta Kau – Bunga Citra Lestari

September 6, 2010

Jika ada yang bilang ku lupa kau
Jangan kau dengar
Jika ada yang bilang ku tak setia
Jangan kau dengar
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu karena ku cinta kau

Jika ada yang bilang ku tak baik
Jangan kau dengar
Jika ada yang bilang ku berubah
Jangan kau dengar
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu karena ku cinta kau kau

Saat kau ingat aku ku ingat kau
Saat kau rindu aku juga rasa
Ku tahu kau s’lalu ingin denganku
Ku lakukan yang terbaik
Yang bisa ku lakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau

Jika kau tak percaya padaku
Sakitnya aku
Jika kau lebih dengar mereka
Sedih hatiku
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu karena ku cinta kau.. kau..

Saat kau ingat aku ku ingat kau
Saat kau rindu aku juga rasa
Ku tahu kau s’lalu ingin denganku
Ku lakukan yang terbaik
Yang bisa ku lakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau

Saat kau ingat aku ku ingat kau
Saat kau rindu aku juga rasa
Ku tahu kau slalu ingin denganku
Kau tahu ku juga ingin denganmu
Ku tahu kau s’lalu ingin denganku
Ku lakukan yang terbaik
Yang bisa ku lakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau


Bintang Hati – September

September 6, 2010

Yang kini engkau cinta
sebagai bintang hati
teruslah berpijar
hingga saat kau lelah
kau hanya bisa temani
untukku saja

hingga esokku berarti
betapa cintaku untuk kau hias
sebagai bintang hatimu
hingga hari sekian cintamu utuh
bersamaku

Engkau dinda yang kupuja
teruslah bermimpi indah
hingga hariku menjemput impian
Engkau dinda yang kusayang
teruslah berharap
bawa aku bintang hati yang terindah…

Bila usai cintamu ku hanya bisa
nyanyikan lagu ini untukmu…woo.ooo.ooo…

Engkau dinda yang kupuja
teruslah bermimpi indah
hingga hariku menjemput impian
Engkau dinda yang kusayang
teruslah berharap
bawa aku bintang hati yang terindah…


September 5, 2010

sepiny malam ini selayaknya sepinya hati ini

terkurung dalam gelapnya malam yang tak berbintang

dimanakah bintang skrg?

Q sgt mrnduknmu

Q ingin cahaya trgmu dlm hdpQ


cinta???

Agustus 16, 2010

didalam kegelapan aku merenung

mencari apa arti cinta sebenarnya

cinta….

banyak makna yang terpendam dalam satu kata itu

tapi menurutku cinta adalah

ketulusan hati yang membutuhkan pengorbanan

entah pengorbanan jiwa maupan raga

tak peduli dengan apa kata orang

yang terpenting aku tulus mencintainya


to someone

Agustus 13, 2010

berjanjilah untuk berikn aku cinta dan buat aku melayang tapi jangan beri aku baynag semu karena ku tak perlu itu andai kau tahu isi hatimu ku ingin selamanya mencintaimu


sms

Agustus 11, 2010

walaupun tangan belum sempat berjabat dan wajahpun belum sempat bertatap mengkin kata bisa jadi jembatan untuk kita saling memaafkan

Δ  MINAL AIDZIN WALFAIDZIN MOHOM MAAF LAHIR DAN BATIN  Δ


badai hati???

Agustus 11, 2010

saat ku termenung dalam kesendirian

hujatan kebencian yang datang

seperti malam tak berbintang

seperti matahari tak bercahaya

gelap yang ada dijiwa

hujan deras mengguyur

petirpun menyambar

angin bertiup kencang

pohon pohon bertumbangan

sungguh inikah hati yang dilandai badai?

^_^ rizkiaya(mmcQ)^_^


love

Agustus 8, 2010

saat kau lambaikan tangamu aQ ngn menetes kan air mata…
tapi tak aQ tak boleh melakuka itu
aQ harus berusaha tersenyum dan tegar melepas qm pergi…
selamat jalan kasih…
kepergianmu hanya untuk sementara dan untuk masa depan qt yg lebih baik lagi…
aQ akan menunggu dirimu sampai kau datg kembali….
kasih…
manfaatkan ini dengan baik…
aQ yakin Qm pst bisa…
doaku akn selalu untuk dirimu…

^_^rizkiaya(mmcQ)^_^


* MASIH ADA ARDI *

Agustus 4, 2010

Sore hari yang cukup sejuk untukku berbaring di tempat tidur yang super sempuk. Hanya sekedar melepas penat setelah sekian jam bergelut dengan berbagai macam kegiatan di sekolah. Maklumlah, aku yang seorang Sekretaris OSIS di SMA-ku disibukkan dengan segudang tugas pembuatan proposal untuk acara perpisahan kelas 12 minggu depan. setelah hampir 7 jam aku mengikuti pelajaran yang super duper membosankan saat itu. Pak Tono, guru Fisika yang bikin ngantuk dengan segelintir dongengnya, Bu Toyari yang nyebelin dengan aksinya menceramahi, dan Olahraga. Uh,,aku amat benci dengan pelajaran yang satu ini. Aku tak tahu alasan pastinya. Ini berawal dari waktu aku masih SD. Waktu itu aku sempat terkilir saat bermain bola dengan teman-temanku. Mungkin karena itu aku jadi takut dengan yang namanya olahraga. Aku yang masih duduk di bangku kelas 10, bisa dibilang cukup luar biasa. Bagaimana tidak? Belum sampai setahun disini, aku telah mendapatkan prestasi yang cukup lumayan. Dari pemenang lomba menyanyi tingkat Provinsi hingga Olimpiade Fisika tingkat Provinsi.

Aku juga mempunyai teman cowok yang bisa dibilang cukup spesial. Namanya Ardi. Kata temen-temenku kita sangat serasi. Dia yang tinggi, manis dan hobi banget sama yang namanya basket. Ia juga telah menjuarai berbagai pertandingan basket hingga tingkat Nasional. Cukup menakjubkan bukan? Kami sama-sama memiliki prestasi yang tak bisa diremehkan begitu saja. Hobi kami pun ada yang sama, yaitu memasak. Kami sering masak bersama. Terutama masak dengan bahan utama udang.

Entah kenapa aku begitu  salut padanya, selain pintar ia juga baik padaku, dan…bisa dibilang care sama aku. Tapi akhir-akhir ini sikapnya ke aku agak aneh. Pasalnya dia jarang ketemu aku, jarang masuk sekolah, ku sms nggak dibales-bales, telfon nggak pernah diangkat. Kusamperin di rumahnya nggak ada. Aku sempat merasa sedih selama sebulan lebih, sampai akhirnya dia sms aku.

Qu mow ktmu d c’fe biasa,,gpl (aku mau ketemu di café biasa,,nggak pakai lama)

Yah, aku merasa senang siang itu. Segera saja aku menuju café tempat favorit kami. Aku penasaran, mau ngapain ya dia kok mendadak sms aku setelah sebulan jarang ketemu? Palingan ketemu hanya sekedar tanya hal pelajaran trus ngilang. Tapi aku tetap melanjutkan perjalananku ke café di daerah Bandung ditemani Pak Aris sopir pribadiku dengan segelintir pertanyaan di otakku. Sepuluh menit kemudian aku sampai di café yang dimaksud. Aku masuk dengan ragu-ragu dan sampai akhirnya aku sampai di meja nomor 5.

“ Maaf, udah lama ya Di?”, tanyaku sedikit gugup.

“Ya”, jawabnya singkat. “Ada apa?”, tanyaku tiba-tiba. Aku sungguh penasaran, nggak biasa-biasanya dia begitu. Dia begitu pucat. Aku merasa takut padanya.

“Em,,Fem aku..”,katanya sedikit gugup.

“Aku apa?”, kulihat wajahnya pucat.

“Kamu kenapa Di?”, tambahku. Dan dia menangis. Aku terharu, baru kali ini aku melihat cowok segagah dia nangis. Aku menawari tissue yang baru kemarin kubeli dari pedagang asongan dengan harga yang cukup murah.

“Nih”, kataku. Dan diapun menerima tissue pemberianku. Kulihat dia mengambil secarik kertas kumal dari kantongnya. Lalu dia memberikannya padaku. Akupun dengan ragu menerima kertas itu. Aku membacanya dan sontak aku kaget.

Hahahaha….kaget ya mbak??ketipu,,,,aktingku bagus nggak? pantes nggak jadi pemain sinetron?

Huh betapa malunya aku, hampir saja aku tertipu muslihatnya.

“Nggak lucu,,trus selama ini kamu kemana aja? Jarang masuk…Jarang ketemu!”, kataku jengkel.

“Kenapa Fem, aku cuma pengen lihat kamu kangen ma aku ajah? Kamu kangen nggak ma aku? Hayo ngaku,,,”, katanya.

“Aku marah ah ma kamu”, balasku kesal dengan muka sedikit tertekuk.

“Kamu tambah cantik deh kalo marah gitu”, rayunya seraya memberiku sebungkus balok yang dilapisi kertas bergambar hati berwarna merah dan berpita kuning. Yang kukira itu adalah sebuah kado.

“Selamat ulang tahun ya!”, ucapnya dengan manis. Aku benar-benar lupa kalau sekarang aku berulangtahun yang ke-17. Aku lupa sekarang tanggal 25. Padahal di HPku masih tanggal 24. Hanya Ardi yang ingat ulangtahunku. Yah,,,,hanya dia seorang.

“Oiya aku ulang tahun sekarang? Ehm,,,Aku lupa. Kirain masih besok. diHandphone-ku masih tanggal 24 tuh,,”.

“Ye, liat tu..masa lupa sama ultah ndiri,,pikunnya kambuh lagi. Ingat..tanggal 25 Neng,”, ejeknya sambil menunjuk kalender kecil berwarna merah yang ada dipojok café ini.

“Oiya,,makasih ya dah inget,,”

Sekitar satu setengah jam kami berada di café itu.

“Pulang yuk,,capek nih”, rengekku. Kami pun pulang bersama. Dan sampai di depan rumahku aku merasa ada yang aneh dengan tatapan Ardi. Tiba-tiba Ardi memegang tanganku erat.

“Fem..jangan lupain aku ya? Aku sayang banget ma kamu. Aku beruntung punya sahabat kayak kamu. Sahabat yang amat ngertiin aku”, katanya dengan mata yang sedikit basah.

Aku hanya diam. Apa maksud perkataannya? Aku tak mengerti. Kenapa tiba-tiba di ngomong begitu?

“Kalo aku pergi jangan sedih ya Fem,,hatiku pasti akan ngejagain kamu. Cuma ragaku yang hilang. Tapi jiwaku tidak”, tambahnya yang membuatku jadi makin bingung.

“Em,,Di,,,emang,,emangnya kamu mau kemana?”, tanyaku gugup. “Kamu nggak bercanda lagi kan?”, tambahku.

“Ya nggak lah,,kali ini aku serius. Janji ya Fem?”.

“Aku bingung Di..kenapa tiba-tiba kamu bilang kaya gitu? Sebenernya kamu mau kemana sih? Nggak..nggak aku pasti nggak kan nglupain kamu kok. Aku janji”, kataku dengan nada yang cukup tinggi.

Dia hanya tersenyum. Dan itu membuatku semakin ingin tau.

“Suatu saat nanti kamu juga pasti akan tau kok Fem”, ucapnya mendahului ku.

“Tapi,,,,”.

“Sudahlah Fem”, larangnya.

Aku jadi sedih dan amat kuatir sama dia. Apa dia memang bener-bener ingin pergi dari hidupku? Ah sudahlah. Aku turun dari mobil dan mengucapkan selamat malam untuknya. Kutelusuri tiap jejak langkahku yang cukup berat setelah perkataan Ardi tadi. Kubuka sendiri pintu rumahku, karena tak ada pembantu dirumahku, kedua orangtuaku pun tak berada disini. Mereka di Sumatra. Aku tinggal dengan nenek dan Pak Aris. Aku langsung menuju kekamar

*-*-*-*-*-*-*

pagi telah menjelang.

“Ndok bangun,,udah pagi,,mandi dulu sayang”, teriak nenekku sambil menggedor-gedor pintu kamarku.

Aku yang masih bermalas-malasan di tempat tidur tak mengindahkan teriakan nenekku. Aku kembali tertidur. Samar-samar kulihat jam dinding berbentuk bulat berwarna biru di kamarku. Aduh sudah jam 6 lebih 15 menit. Aku langsung kabur ke kamar mandi dan menyambar handuk. Setengah jam kemudian aku telah siap. Tanpa sarapan, aku langsung mencium tangan nenek dan langsung pergi.

“Lho Ndok ndak sarapan dulu?”, Tanya nenek.

“Nggak nek udah telat”, teriakku.

Hari-hari berikutnya terus kujalani dengan santai dan masih dengan seonggok tugas-tugas yang tercecer. Dan sampai akhirnya aku dan Ardi memasuki kelas 12. Nilai kami pun tak mengecewakan. Tapi kulihat ada yang lain dari dia. Tiap hari mukanya tampak pucat. Dan sekarang rambutnya dicukur habis. Aku tak tahu kenapa. Padahal dulu dia amat benci jika harus memangkas rambutnya habis. Dan yang paling membuatku gelisah adalah dia selalu murung dan agak kurusan. Sempat kutanya kenapa? Tapi nihil,,hanya ucapan

“Aku cuma kecapean” yang mampir ditelingaku.

Kutanya orangtuanya juga percuma.

“Kemana sih Ardi? Kok nggak ada lagi. Padahal udah jam 7 lebih sepuluh.”, kataku lirih dibangku paling belakang.

Tiba-tiba  Pak Rudi, Kepala sekolahku memanggil. Aku kaget, karena aku sedikit melamun dan mengantuk.

“Ya pak,,,”.

“Bisa ikut Fem”, kata Pak Rudi.

“Ada apa pak?”. Aku heran.

Aku diajak ke suatu tempat naik mobil Pak Rudi.

“Maaf Pak..memangnya kita mau kemana?”, tanyaku tiba-tiba.

“Nanti kamu juga akan tau, jadi tenang saja”, kata Beliau dengan wajah yang sedih.

Akhirnya kami sampai ditempat tujuan kami. Rumah sakit,,,ya rumah sakit. Kenapa aku dibawa kesini? Siapa yang sakit? Digandengnya aku oleh Beliau memasuki rumah sakit itu menuju ke kamar paling ujung. Dari kejauhan kulihat, di depan sebuah kamar terdapat banyak orang. Setelah kuteliti lebih detail, aku dapat  mengenali salah satu diantaranya. Mama Ardi. Kenapa dia disini? Sekejap kemudian tante Mira, begitu aku memanggilnya langsung memelukku sambil terisak menangis.

“Ardi Fem…Ardi,,,”.

“Ada apa dengan Ardi Tante?”, tanyaku penasaran.

Dan tak sengaja kulihat kedalam kamar 302 itu. Dan akupun benar-benar kaget. Ardi terbujur tak berdaya disana. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke kamar itu. Aku meneriakkan nama Ardi. Tak terasa air mata telah jatuh di pelupuk mataku. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku menangis disamping Ardi.

“Sabar Fem,,,”, kata seseorang dibelakangku.

Mungkin itu Pak Rudi. Aku tak tau. Aku telah disibukkan dengan tangisanku terhadap Ardi. Ardi tak sedikitpun menampakkan tanda-tanda kehidupan. Wajahnya pucat pasi, dingin, tak menghembuskan nafas. Astaghfirullah…Ardi telah tiada. Innalillahiwainnailaihiraji’un.

“Ardi,,,Di,,kenapa kamu? Kamu nggak pa pa kan Di? Bangun Di,,,kamu kenapa?”, teriak dan isakku pada Ardi seraya memegang erat tangan kirinya.

“Aku benci sama kamu. Kenapa kamu tinggalin aku secepet ini?”, kataku terbata-bata tertutup isak tangisku.

“Sabar Fem,,,Ardi tak pergi jauh darimu..dia akan terus ada disisimu. Tante juga merasa kehilangan dia”, ucap Tante Mira dengan nada melemah dan terisak.

“Ardi sakit,,,sakit,,e, dia sengaja tak bercerita padamu. Dia Cuma takut kamu sedih. Dia sayang sama kamu”, tambah tante Mira agak terputus-putus.

“Tapi Tante,,,kenapa secepat ini? Ardi sakit apa Tante? Sakit apa? Ardi tak pernah bilang ma Femy”, isakku makin menjadi.

Diserahkannya secarik kertas putih dari tante Mira.

“Untukmu dari Ardi”. Aku langsung membuka dan membacanya.

Femy sahabatku yang terbaik dan amat kusayangi,

Aku tak pergi jauh darimu. Hanya ragaku yang hilang. Hatiku akan selalu menemanimu kapanpun dan dimanapun. Maaf aku tak bercerita padamu kalau aku mengidap penyakit HIV. Ini bukan salahku dan bukan salah ayahku yang mendonorkan penyakit ini ke tubuhku. Aku tau ini takdir Yang Maha Kuasa. Maafkan aku. Aku tak mau kamu sedih. Aku tak mau membuat sahabat dan orang yang paling kusayang merasa sedih kehilangan diriku. Sekali lagi maaf Fem.

Thanks,,

Ardi yang selalu mencintaimu

“Ardi…”, teriakku terakhir dan tiba-tiba aku telah berada di sebuah ruangan yang berdinding biru dan putih.

“Ndok,,kamu udah sadar?”, terdengar suara khas nenekku. Aku tak tau kenapa diriku.

“Aku kenapa Nek? Aku dimana?”, tanyaku padanya.

“Kamu tadi pingsan”. Sedetik kemudian aku teringat Ardi.

“Ardi dimana Nek? Ardi…”, teriakku. Aku mulai terisak lagi mengingat apa yang terjadi dengan Ardi.

“Ardi sudah dikebumikan Fem,,dan sebelum dia meninggal, dia sempat menyebut namamu 3 kali. Aku yakin dia juga sangat sedih meninggalkan kamu. Maafkan Tante soal penyakit itu,,Tante,,Tante,,nggak memberi tau kamu”, ucap Tante Mira terputus.

“Ayah Ardi, Om Farhan juga meninggal karena HIV…ia juga mengidapnya,,,dan…akhirnya Ardilah korban selanjutnya,,,Tante baru tahu 6 bulan yang lalu,,,Ardi tak pernah bercerita ke Tante…andai saja,,”, cerita Tante Mira padaku dan ia mulai menangis lagi.

“Em…nggak pa pa Tante,,,mu..mungkin ini sudah takdir Ardi untuk ninggalin kita selamanya”, ucapku sedih sambil mengusap mataku dengan tissue.

Sebenarnya aku masih sangat menyayangkan hal itu terjadi pada Ardi. Tapi sudahlah.

Dan ternyata aku telah 5 jam pingsan. Aku tak tau saat-saat terakhir sahabatku itu dimakamkan. Aku memeluk Tante Mira kuat-kuat.

“Tante…Ardi,,,Femy sendiri tanpa Ardi, Tante. Tanpa hiburan dari Ardi lagi”, kataku.

“Sabar ya Fem…Tante yakin Ardi akan selalu menemani kita, yakinlah”.

“Femy mau ke makam Ardi,,”, pintaku.

Dan aku, nenek, Tante Mira beserta Pak Aris menuju ke TPU tempat Ardi disemayamkan. Sampai disana aku tergeletak lemas, terkulai disamping pemakaman Ardi. Aku memeluk nisan yang tanahnya masih agak basah bertabur aneka ragam bunga yang luar biasa harumnya itu. Aku meletakkan tanganku di papan bertuliskan nama Ardian Nugraha Setyahari. Aku menitikkan air mataku ke pembaringan terakhirnya. Aku sangat sedih kehilangan dia. Aku mengingat-ingat kejadian-kejadian yang pernah kita lewati dulu terlebih kata-kata terakhir Ardi dan kecurigaanku selama ini akan sikap-sikapnya. Keceriaannya dulu hanya make-up saja. Hanya untuk menutupi penyakitnya dariku dan dari teman-teman.

Dan kulihat sekeliling samar-samar, aku hanya ditemani ribuan persemayaman terakhir orang-orang terdahulu Ardi. Nenek, Tante Mira dan Pak Aris telah lama membiarkanku sendiri disini. Kini aku mengerti arti ucapan Ardi dulu. Dan aku akan berusaha menjalani hari-hariku tanpa Ardi lagi. Aku merasa hari itu aku pupus.

Tapi aku janji tak akan sedih lagi. Dan hari-hari berikutnya hingga kini, teman-teman mau lebih dekat lagi denganku. Mereka menghiburku dan menemaniku. Serta mencoba menghilangkan memori saat-saat bersama Ardi. Di mataku masih tergambar jelas sosok Ardi. Ia akan selalu ada di hatiku. Aku yakin Ardi akan selalu tersenyum menemaniku, dikesendirianku….

#helmei#


padita2

Agustus 2, 2010

Q su2n 1 dmi 1 ra rnduQ pd U,agr kelak mjd sbwh pndasi yg ko2h disat Qt akn mmbgn mhligai cnt, Q rncang dmna cnt akn Q dbngun, diht U lah Q akn tncpkan pasak asmara in..

Dgn 1 kykinan dhti, kelak istana cnt Qt akn ko2h tk trgoyahkan wlau bdai mghntam, wlau kilat menyambar

Adinda ulurkan tgn U, tancapkan pasak asmara sdalam smudra, selimuti dg din2g kalbu U kstian, atapi  cnt Qt dg do’a & hrpan, & mrilah Qt bwt benteng istana cnt Qt dg kstian abdi, agr tk ad cnt yg mengusik

shngga Qt bs bktikan pada dunia bahwa istana cinta kita indah damai nan tentram dan akan kekal abadi selamanya

^_^ p@dit@ ^_^


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.